Informasi dan Pengetahuan Seputar Betawi

...
RSS

SEJARAH DAN RIWAYAT KOTA DEPOK

DEPOK

Sebuah nama yang sudah tak asing lagi bagi kita. Depok sebuh Kota yang bertepatan di sebelah selatan Ibu Kota ini, di mana memiliki luas wilayah kurang lebih 20.504,54 Ha ini, ternyata tersimpan begitu banyak cerita yang menaungi kota Depok . di mulai dari sebuah dusun yang di penuhi hutan berantara.

Asal Usul Nama Depok

Ditinjau dari asal usul nama Depok ada berbagai versi yang berupaya mengungkapkan asal nama Depok tersebut:

1. Versi pertama berhubungan dengan Cornelis Chasteleyn yang membeli tanah di Jatinegara, Kampung Melayu, Karanganyar, Pejambon, Mampang dan Depok pada akhir abad ke-17 (ada yang menyebut tanggal 18 Mei 1696, ada juga tanggal 13 Maret 1675).

Ketika Chasteleyn membeli tanah di Depok, ia membelinya dengan harga 700 ringgit, dan status tanah itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan VOC. Tanah-tanah itu memiliki batas-batas yang diperkirakan, sebelah utara (Kampung Malela), sebelah selatan (Kampung Belimbing, berbatasan dengan Kelurahan Ratujaya, sekarang), sebelah timur (sungai Ciliwung), sebelah barat (rel kereta api Jakarta-Bogor).



Cornelis Chasteleyn adalah seorang Belanda, tuan tanah mantan pegawai VOC. Ia memiliki tanah mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir), Meester Cornelis (Jatinegara), hingga Buitenzorg (Bogor). Bisa dibayangkan betapa kayanya, meneer yang satu ini. Tanah yang dibelinya di kawasan Depok itu harus diolah. Oleh karena itu, ia mendatangkan budak dari Bali, Borneo (Kalimantan), Makassar, Maluku, Ternate, Kei, Pulau Rote, Batavia. Jumlahnya sekitar 150 orang.

Atas permintaan ayahnya, Chasteleyn mengajarkan agama Kristen kepada para budaknya. Secara bertahap di sana muncul sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen (Organisasi Kristen Protestan Pertama). Ada pula yang menyebut Deze Eenheid Predikt Ons Kristus (Dengan persatuan membawa kami ke Kristus). Keduanya bisa disingkat DEPOK dan konon menjadi cikal bakal nama Depok.

2.Versi yang Kedua menyebutkan, jauh sebelum Chasteleyn membeli tanah di Depok, nama Depok sudah ada. Hal tersebut dikatakan Abraham van Riebeeck, inspektur jenderal VOC ketika mengadakan ekspedisi menelusuri sungai Ciliwung pada 1703, 1704, dan 1709. Ia melalui rute: Benteng (Batavia) - Tjililitan – West Tandjong (Tanjung Barat) - Seringsing (Serengseng) - Pondok Tjina - Depok - Pondok Pucung (Terong).

3. Pendapat ketiga, menyebutkan Depok sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa (baca: Belanda) masuk ke Jawa. MW Bakas, salah seorang keturunan asli Depok yang dikutip H. Nawawi Napih dalam Meluruskan Sejarah Depok mengatakan, ketika meletus perang antara Pajajaran dengan Banten-Cirebon (Islam) tentara Pajajaran membangun ‘padepokan’ untuk melatih para prajuritnya untuk mempertahankan kerajaan. Padepokan ini dibangun dekat Sungai Ciliwung. Terletak antara pusat kerajaan Pajajaran (Bogor) dan Sunda Kelapa (Jakarta). Sesuai dengan lidah melayu, kata ‘padepokan’ kemudian hanya disebut ‘Depok’.

Pendapat ini didukung dengan fakta bahwa di sekitar Depok terdapat nama-nama kampung yang menggunakan bahasa Sunda. Misalnya Parung Blimbing (di Depok Lama) di selatan, Parung Malela di utara dan Kampung Parung Serab di sebelah timur seberang Ciliwung berhadapan dengan Parung Belimbing. Semua kampung ini berada di tepi sungai Ciliwung. Kemungkinan kampung-kampung itu pada waktu perang dijadikan pusat pertahanan tentara Pajajaran terhadap kemungkinan serangan Cirebon dan Banten ke pusat pemerintahan di Bogor melalui Ciliwung. Kemungkinan lain sebagai basis pertahanan untuk menyerang Sunda Kelapa.Kaitan nama Pajajaran dengan Depok pun dibantah buku Meluruskan sejarah Depok. Alasannya, nama Depok di masa Pajajaran belum ada, baik dalam naskah lama tulisan para penulis Portugis, maupun dalam cerita yang mengisahkan raja-raja Pajajaran. Padepokan baru dikenal setelah masa Islam karena tempat yang sama pada masa Hindu justru disebut Mandala bukan padepokan. Yang menarik nama ‘Depok’ juga ditemui di wilayah Sleman, Yogyakarta.

4. Sementara itu versi lain menyebutkan antara Perumnas Depok I dan Depok Utara ada tempat yang disebut Kramat Beji. Di sekitar tempat itu ada tujuh sumur berdiameter satu meter. Di bawah pohon beringin yang berada di antara ke-7 sumur ada sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci. Di dalamnya masih dapat kita temukan banyak sekali senjata kuno, seperti keris, tombak dan golok. Konon, dahulu di Kramat Beji sering diadakan pertemuan antara pihak Banten dan Cirebon. Senjata-senjata tersebut diduga peninggalan tentara Banten ketika melawan VOC. Di tempat seperti ini biasanya untuk latihan bela diri dan pendidikan agama yang kerap disebut padepokan. Disimpulkan nama Depok kemungkinan besar dari kata Padepokan Beji.

Di padepokan inilah para guru agama (Islam) mengajar pada para siswa atau santrinya. Di siang hari mereka bekerja di ladang, dan sorenya mengaji agama. Para santri ditempatkan pada sebuah asrama, sedangkan gurunya disediakan tempat di kompleks itu juga. Pelajaran yang diberikan selain agama, juga seni bela diri (silat), dan kemungkinan latihan kemiliteran. Jadi pada masa Pajajaran, agama Islam telah berkembang di Depok.

Namun, yang jelas perlu diakui jika Depok pada masa Hindu merupakan jalur perniagaan penting. Letaknya yang berada di antara Pakuan dan Sunda Kelapa membuat Depok menjadi tempat persinggahan. Pelabuhan kecil di Depok adalah Cipanganteur dan sering disebut Kali Pengantar. Sekarang tempat tersebut bernama RAU yang lokasinya di Parung Malela (dekat kuburan Kristen di Depok lama), di tepi sungai Ciliwung.

Aliran sungai Ciliwung ini menjadi sarana transportasi pada masa lalu. Adalah Jembatan Panus (berasal dari nama Stevanus, salah satu keluarga ‘kaoem Depok’) yang menghubungkan Depok I (Barat) dengan Depok II (Timur). Jembatan itu dibangun sekitar tahun 1917 yang dapat disebut sebagai monumen dibukanya jalur lalu lintas darat antara kedua wilayah Depok tersebut.

Mimpi Chasteleyn Tentang Depok

Cornelis Chasteleyn boleh bermimpi jika tanah miliknya yang luas hanya akan digarap dan digunakan oleh para ahli warisnya. Tanahnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang. Seperti yang ia tuangkan dalam (terjemahan) surat wasiatnya yang berbahasa Belanda kuno tertanggal 14 Maret 1714.: “… MAKA hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chasteleyn tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…”

Gambaran Depok masa silam ini tentu pada masa kini nyaris tak berbekas. Depok pada masa itu dihiasi sungai, hutan, rimbunan rumpun bambu yang sengaja ditanam, tidak boleh diganggu. Bahkan ternyata ada pula penggilingan tebu.

Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu kemungkinan ada hubungannya dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang. Tepatnya berada di selatan Cinere. Sementara itu, bila ada penggilingan tebu, maka logisnya terdapat pula tanaman tebu. Budidaya tebu yang sesuai dengan watak agrarisnya, pastilah berada pada hamparan yang luas, berpengairan cukup serta dengan sistem pengaturan lahan yang baik.


Polemik Orang Depok Asli

Dalam sebuah Seminar Sejarah dan Identitas Orang Depok Asli yang digelar di Depok baru-baru ini, muncul polemik saat membahas sejarah dan identitas orang Depok asli. Tak sedikit pertanyaan kritis sekaligus bantahan dilontarkan peserta seminar, seperti "Benarkah orang Depok asli keturunan budak?" "Benarkah orang Depok keturunan Belanda?" dan sebagainya. Seorang pakar etnologi dari Belanda, Graafland pada tahun 1891 mengatakan, sukar untuk menggo-iongkan kaum Depok dalam tipe kelompok pribumi tertentu, sebab mereka sejak awal sudah merupakan komposisicampuran (mixtum compo-situm) dari berbagai suku bangsa. Lalu, R.M. Jonathan, SE, lelaki keturunan Belanda yang hadir dalam seminar itu menambahkan, "Sulit untuk mengatakan orang Depok suku apa, sebab suku Sunda bukan, suku.
Bali bukan (walaupun kebanyakan dari kaum Depok berasal dari Bail), suku Jawa bukan, suku Betawi juga bukan. Tapi yang pasti, kaum Depok adalah Bhinneka Tunggal Ika pertama di Indonesia yang merupakan percampuran suku-suku bangsa yang pertama di Indonesia. Dengan kata lain, orang Depok merupakan miniatur suku-suku yang ada di Indonesia."

Masih menurut Jonathan, penamaan Belanda-Depok lebih banyak diwarnai oleh nuansa politik. Sewaktu PKI meningkatkan aksi-aksinya di awal tahun 1960-an, penamaan tersebut timbul. Istiiah Belanda-Depok acapkali dianggap kurang memiliki rasa nasionalisrne. " Saya pribadi berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut merupakan upaya untuk memberi beban mental block pada komunitas Depok keturunan Belanda," tutur Jonathan tegas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar